Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Kamis, 30 Desember 2010

Hutan Pendidikan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat / Mandiangin

§   Letak dan Luas
       Secara administrasi daerah Hutan Pendidikan Mandiangin berada di wilayah Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar Propinsi Kalimantan Selatan dengan batas-batas sebagai berikut :
·         Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Mandiangin
·         Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Awang Bangkal, Kecamatan Cempaka
·         Sebelah Timur berbatasan dengan Hutan Lindung, Desa Aranio
·         Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kiram, Kecamatan Pelaihari.
       Letak geografis Hutan Pendidikan Mandiangin ialah 3° 30’00” LS sampai 3° 33’22” LS dan 114054’46,3” BT sampai 114057’42,3 BT.
       Berdasarkan Surat Penunjukan Areal HPU Mandiangin oleh Gubernur Dati I Kalimantan Selatan No. DA-144/PHT/1980 tanggal 31 Desember 1980, luas areal hutan ini ditetapkan sekitar 2.000 ha.  Tetapi karena alasan relief dan pemilikan lahan oleh penduduk lokal, maka luas menjadi 1.805,875 ha, meliputi Bukit Mandiangin, Bukit Besar, Bukit Pendamaran dan Bukit Pematon.
       Menurut administrasi Kehutanan, Hutan Pendidikan Fakultas Kehutanan ini termasuk dalam wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kayu Tangi / Banjarmasin dan Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Banjarbaru.
§   Keadaan Topografi
       Keadaan topografi Hutan Pendidikan Mandiangin  adalah datar, bergelombang, berbukit-bukit sampai bergunung-gunung dengan derajat berkisar 15 % sampai 45 %.  Hal ini diperkuat oleh Peta Topografi Propinsi Dati I Kalimantan Selatan Dari OCTA (Tokyo, 1974) dalam Ruslan (1986) dengan skala 1 : 50.000, dimana diuraikan bahwa sebagian besar Hutan Pendidikan Mandiangin bergelombang dan berbukit-bukit.  Hutan ini merupakan bagian dari rangkaian pegunungan yang membentuk zone Pegunungan Meratus yang membujur dari selatan ke arah utara di wilayah propinsi Kalimantan Selatan dan hutan ini berada di sisi barat zona Pegunungan Meratus.
       Satuan lahan hutan Pendidikan Mandiangin ini merupakan suatu sistem pegunungan dengan ketinggian lebih dari 300 m dan sebagian merupakan sistem perbukitan yang sempit.  Daratan dibagian Selatan merupakan dataran alluvial yang merupakan endapan hasil erosi aliran permukaan terhadap Bukit Pematon dan Bukit Besar.  Aliran permukaan tersusun membentuk aliran sungai Puntin.  Dataran alluvial ini sangat landai dengan ketinggian kurang dari 100 m.
Daratan ini bagian tanah yang terletak diantara bukit Mandiangin dan Bukit Besar merupakan daratan alluvial pula dan secara populernya disebut daratan antara pegunungan (Intermountain plain). Daratan ini sangat sempit dimana terdapat pondok-pondok sebagai pos penjagaan, latihan dan penelitian yang banyak dilakukan oleh dosen maupun mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat.
       Pada dataran antara pegunungan ini terdapat sub daerah aliran sungai Mandiangin yang merupakan satu-satunya yang terdapat di darerah ini.
§   Keadaan Tanah
       Berdasarkan peta tanah Eksplorasi Propinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan dari Direktorat Tata Guna Tanah (1981) disebutkan bahwa jenis tanah yang mendominasi Hutan Pendidikan adalah tanah podsolik merah kuning dan latosol yang berasal dari degradasi dan dekomposisi bahan induk, terutama dari batuan beku dan batuan sedimen.
       Jenis tanah ini khususnya terdapat di daerah bukit atau gunung dengan tekstur lempung berpasir sampai lempung berliat, konsistensi gembur (terutama lapisan atasnya) dan berwarna merah sampai kuning.
       Sedangkan menurut Peta Tanah dan Peta Tekstur Propinsi Dati I Kalimantan Selatan dari Direktorat Bina Program dengan skala 1 : 500.000, dikatakan bahwa di daerah tepi sungai memiliki jenis tanah alluvial, bertekstur sedang dengan bahan dari batuan beku Tanah di areal Hutan Pendidikan Mandiangin bersifat masam (pHnya antara 3 – 5). (sumber Peta Tematik Prop. Kal-Sel Dirjen Bina Program 1977 dan Kantor Agraria Tk. I Dit. Tata Guna Tanah, Banjarbaru 1956).
§   Iklim dan Curah Hujan
       Klasifikasi curah hujan tahunan rata-rata berkisar antara 2000 mm sampai dengan 3000 mm per tahun. Dengan jumlah hari hujan sebanyak 90 – 140 hari pertahun.  Bulan keringnya antara bulan Januari sampai dengan Oktober, sedangkan curah hujan terbesar umumnya terjadi pada bulan Desember sampai Februari.
       Tipe iklim hutan Pendidikan Mandiangin klasifikasi iklim tergolong pada iklim tropis basah dengan suhu minimum 19 0C dan temperatur maksimum 35 0C dan kisaran rata-rata antara 25 0C sampai 27 0C.
§   Keadaan Vegetasi
       Sebagian besar Hutan Pendidikan Mandiangin Fakultas Kehutanan terdiri dari padang alang-alang  (Imperata cylindrica) yang terdapat pada daerah datar sampai yang bergunung-gunung.  Daerah yang berhutan hanya ditemui pada punggung-punggung gunung sampai ke puncak gunung, terutama pada sekeliling daerah aliran sungai (DAS).
       Di daerah padang alang-alang, banyak dijumpai jenis pohon seperti Alaban (Vitex pubescens), Gerunggang (Cratoxylon arborescens), Karamunting (Melastoma polyantum), Kamalaka (Phyllanthus emblica), Rawa-rawa pipit (Mangifera sp), Kayu kacang (Strombossia javanica), beberapa jenis herba dan semak belukar.  Selain jenis yang tumbuh secara alami, juga terdapat jenis-jenis yang sengaja ditanam, seperti Pinus (Pinus merkusii), Leda (Eucalyptus sp), Jambu Mente (Anacardium occidentale), dan Gamal (Glyricidia maculata).
       Selain itu areal yang sebelumnya padang alang-alang, sekarang telah ditanami tanaman jati (Tectona grandis) dan terdapat areal tanaman Kayu kuku (Pericropsis moluccana) yang merupakan jenis ekxsitu.
       Di daerah punggung gunung yang berhutan sampai ke puncak umumnya ditemui jenis Cemara gunung (Casuarina junghunniana), Palawan (Tristania mangiyai), Kayu kacang (Strombosia javanica), Medang pirawas (Neolitsea casifolia), Tengkook ayam (Nephelium sp), Kayu kikir (Casearia grewiefolia), jenis Alaban (Vitex  sp) dan jenis semak belukar.
§   Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat
       Keadaan sosial ekonomi masyarakat berkaitan erat dengan latar belakang pendidikan dan lingkungan tempat tinggal.  Pada umumnya bermata pencaharian pegawai negeri, berkebun, mengusahakan tambak ikan, memungut hasil hutan dan menyadap pohon karet.
Kondisi yang menunjang lingkungan tersebut adalah adanya aliran sungai yang dapat mengaliri sawah, tambak ikan, dan norma pergaulan mereka belum dipengaruhi oleh budaya baru.  Rasa kebersamaan dan kegotong royongan sangat tinggi, sebagian penduduk beragama Islam.
       Keberadaan HPU dapat meningkatkan pendapatan dan menjual hasil kebun pada pengunjung Taman Hutan Raya Sultan Adam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar